AS dan Israel Serang Iran, Trump Umumkan Operasi Tempur Besar-Besaran dan Ancaman Nuklir

Redaksi MRI
3 Menit Baca

RILIS INDONESIA.Com – Presiden Donald Trump mengumumkan dimulainya “operasi tempur besar-besaran” terhadap Iran, menyusul serangan rudal yang lebih dulu dilancarkan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato resmi Gedung Putih dan disiarkan langsung oleh Al Jazeera pada Jumat (28/2/2026).

Trump menegaskan bahwa tujuan operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel adalah “menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran” serta memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.

Iran Balas Serangan

Tak lama setelah serangan pertama, Iran dilaporkan melakukan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel dan sejumlah aset Amerika Serikat di kawasan Teluk. Situasi ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

- Advertisement -

Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar putri di Minab, Provinsi Hormozgan, meningkat menjadi 40 orang. Sebelumnya dilaporkan 24 korban meninggal dunia.

Pernyataan Keras Trump

Dalam pidatonya, Trump menyampaikan sejumlah pernyataan tegas, di antaranya:

AS akan menghancurkan sistem rudal dan industri pertahanan rudal Iran.
Operasi juga menargetkan kekuatan angkatan laut Iran.
Washington berkomitmen memastikan Iran “tidak akan pernah memiliki senjata nuklir”.
AS akan menindak kelompok proksi Iran yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut menandai salah satu eskalasi militer paling serius sejak konflik singkat namun intens antara kedua pihak pada Juni 2025.

Klaim Pejabat Iran

Kantor berita Fars melaporkan bahwa para pejabat senior Iran berada dalam kondisi aman. Di antaranya Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta sejumlah pejabat tinggi keamanan.

Laporan itu membantah klaim sumber Israel yang menyebutkan bahwa serangan turut menargetkan tokoh-tokoh penting pemerintahan Iran.

Latar Belakang Ketegangan

Ketegangan meningkat setelah pembicaraan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa, yang dimediasi Oman, berakhir tanpa terobosan dua hari sebelum serangan terjadi. Washington dan Tel Aviv selama bertahun-tahun menyatakan program pengayaan uranium Iran sebagai ancaman serius.

Namun, pejabat Iran berulang kali membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Sejumlah laporan intelijen sebelumnya juga menyebut belum ditemukan bukti aktif pengembangan senjata atom, meski klaim ancaman tetap menjadi dasar kebijakan keamanan AS dan Israel.

Dampak Regional

Konflik ini langsung memicu kekhawatiran global. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyatakan keselamatan warganya di Timur Tengah sebagai prioritas utama dan memerintahkan langkah cepat untuk memastikan keamanan pekerja migran Filipina di kawasan tersebut.

Dengan serangan udara dan laut yang disebut akan berlangsung “ekstensif”, dunia kini menanti apakah konflik ini akan berkembang menjadi perang terbuka skala besar di Timur Tengah.

Situasi terus berkembang dan pembaruan informasi diperkirakan akan berlangsung cepat seiring meningkatnya ketegangan antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran.

(berbagaisumber/ai/MriNews)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *