RILIS INDONESIA.Com – SUKABUMI — Di kaki pegunungan Sukabumi, tersembunyi sebuah keindahan yang seolah dijaga rapat oleh alam. Pesonanya begitu menenangkan, menjadi tempat bagi siapa pun yang ingin sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia.
Tempat itu bernama Curug Sentral, sebuah destinasi wisata alam di Kampung Jayanegara, Desa Jayanegara, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Belakangan, nama Curug Sentral semakin sering terdengar di kalangan pencinta alam dan pelancong akhir pekan.
Bagi banyak orang, datang ke Curug Sentral bukan sekadar melihat air terjun. Mereka datang untuk menikmatinya — berendam di air jernih, berenang di bawah langit terbuka, atau hanya duduk di atas batu sambil mendengarkan harmoni alam yang menenangkan jiwa.
Yang membuat Curug Sentral istimewa, bukan hanya satu, melainkan tujuh air terjun yang semuanya bersumber dari satu aliran sungai yang sama. Seolah alam ingin mengajarkan bahwa satu sumber kehidupan bisa menebar banyak keindahan.
Dua air terjun yang paling dikenal adalah Curug Sentral 1 dan Curug Sentral 2. Curug Sentral 1 menjulang setinggi kurang lebih 15 meter, dengan gemuruh air yang jatuh di antara bebatuan besar. Percikan airnya membentuk kabut lembut yang menari di udara, menciptakan kesejukan alami yang memeluk wajah setiap pengunjung. Karena arusnya deras, pengunjung biasanya hanya menikmati pemandangan dari tepian, menikmati keagungan alam dari jarak aman.
Sementara Curug Sentral 2 menawarkan suasana yang lebih tenang dan bersahabat. Airnya jernih kebiruan, kolamnya luas, dan alirannya lembut. Di sini, pengunjung bebas berendam sambil menikmati panorama hijau yang mengelilingi. Rasanya seperti melarikan diri sejenak dari dunia, yang ada hanya suara air, angin, dan ketenangan.
Perjalanan menuju Curug Sentral sendiri adalah bagian dari petualangan yang tak kalah seru. Dari kawasan PT Chevron Geothermal Salak Ltd, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga satu jam berjalan kaki. Jalurnya tidak terjal, melainkan lembut dan sejuk, membelah kebun teh yang hijau dan pepohonan rindang. Setiap langkah menghadirkan aroma tanah basah dan udara segar yang membuat perjalanan terasa begitu alami.
Meski berada di tengah hutan, fasilitas di Curug Sentral cukup lengkap. Ada musala, toilet, area berkemah, hingga tempat sampah yang dikelola oleh warga sekitar. Semua disiapkan agar pengunjung tetap nyaman tanpa kehilangan rasa petualangan yang menjadi daya tarik utama tempat ini.
Namun, di balik keindahannya, Curug Sentral juga menyimpan kisah sejarah. Menurut Pak Yudi, warga setempat, nama “Sentral” berasal dari masa penjajahan Belanda.
“Dulu air curug ini digunakan untuk menggerakkan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Karena itu disebut Curug Sentral — pusat energi pada zamannya,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa lalu.
Kini, sisa-sisa sejarah itu masih bisa dirasakan dari atmosfernya. Setiap pagi, kabut tipis menyelimuti lembah curug, lalu perlahan sirna ketika sinar matahari menembus dedaunan. Suara air jatuh berpadu dengan kicauan burung liar, menciptakan irama damai yang jarang bisa ditemukan di tempat lain.
Curug Sentral buka setiap hari, mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Tempat ini sempurna untuk healing, berpetualang ringan, atau sekadar menepi dari rutinitas kota. Harga tiketnya sangat terjangkau, tapi pengalaman yang didapat terasa tak ternilai — menyegarkan, menenangkan, dan selalu membuat rindu untuk kembali.
Karena di Curug Sentral, setiap langkah menuju air terjun adalah perjalanan kecil menuju kedamaian. Dan di antara derasnya air yang jatuh, seolah alam sedang berbisik lembut: “Datanglah, dan temukan tenangmu di sini.”

