Blue Fire Papandayan Memukau tapi Berbahaya, Badan Geologi Minta Warga Jauhi Kawah

NIZAR ROMHADON
2 Menit Baca
Fenomena api biru menyala di Kawah Manuk dengan kepulan gas kuning beracun yang mengepul - sesuai peringatan Kepala Badan Geologi soal gas di atas ambang batas. Petugas PVMBG dengan masker gas & alat detektor sedang pantau 24 jam, seperti di berita. Papan peringatan BAHAYA! RADIUS 500 METER DILARANG MASUK untuk Kawah Manuk, Baru, Emas, Nangklak. (Foto ilustrasi: maris/meta/mri)

RILIS INDONESIA.Com – Bandung,- Keindahan fenomena blue fire atau api biru di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ternyata menyimpan ancaman serius. Badan Geologi mengingatkan masyarakat akan potensi bahaya di balik fenomena tersebut.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, blue fire muncul akibat pelepasan panas vulkanik yang sangat tinggi hingga membakar material di permukaan kawah. Di balik keindahannya, ada risiko semburan gas beracun.

“Potensi bahaya yang dapat terjadi dengan kemunculan sinar api atau blue fire ini adalah semburan dan paparan gas vulkanik beracun di atas ambang batas,” ujar Lana Saria, Minggu (27/9/2026).

Terkait hal itu, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan. Masyarakat diminta tidak beraktivitas dan tidak menginap di dalam kawasan bukaan kawah aktif di kompleks Gunung Papandayan.

- Advertisement -

Kawasan yang dilarang tersebut meliputi Kawah Baru, Kawah Emas, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk atau Balagadama, terutama dalam radius 500 meter, serta saat cuaca mendung dan hujan.

Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai peningkatan konsentrasi gas beracun yang bisa terjadi secara tiba-tiba.

“Mewaspadai terjadinya letusan yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas. Dan mewaspadai potensi longsor di dinding kawah kompleks Gunung Papandayan,” katanya.

Berdasarkan pemantauan hingga Sabtu (26/9/2026), sinar api di Kawah Manuk sudah tidak terlihat. Meski demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan pemantauan intensif selama 24 jam akan terus dilakukan.

“Tingkat aktivitas Gunung Papandayan akan dievaluasi secara berkala maupun jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan,” ujarnya. (CNN/MRI)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *