Syukuran dan Semuarian Wakil Bupati Romli: Adat Lampung yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Mika Prathama A.Md

RILIS INDONESIiA.Com, Lampung Utara 20 Juli 2025 – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti acara semuarian sekaligus syukuran atas kemenangan pasangan HAMARTONI dan Romli sebagi Bupati dan Wakil Bupati Lampung Utara, yang digelar di Desa Kotanapal, Kecamatan Bunga Mayang, pada Minggu (20 Juli 2025). Dalam prosesi adat tersebut, wakil bupati lampung utara Romli gelar Tuan Kanca Marga, sedangkan Sahrial Efendi gelar Raja Mulia resmi menjadi saudara/semuarian dalam adat istiadat lampung.

Acara berlangsung meriah dengan dihadiri unsur Forkopimda dan jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Utara, termasuk Bupati DR. Ir. H. Hamartoni Ahadis, M.Si, Sekda Drs. Lekok, M.M, Ketua DPRD Lampung Utara Muhammad Yusrizal, S.T, serta sejumlah anggota DPRD lainnya.

Semuarian adalah tradisi adat Lampung dalam mengangkat saudara secara adat, tanpa memandang strata sosial maupun latar belakang. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan menjadi simbol persaudaraan serta penyatuan hati, yang kadang dilakukan sebagai bentuk perdamaian setelah perselisihan atau sebagai ungkapan rasa hormat atas kebaikan antarpihak.

Dalam sambutannya, Bupati Hamartoni Ahadis mengapresiasi pelestarian nilai-nilai luhur budaya Lampung.
“Saya mengucapkan selamat atas pelaksanaan acara semuarian ini. Selain sebagai bentuk syukur atas kemenangan pasangan HARLI acara ini juga merupakan falsafah masyarakat Lampung yang menjunjung tinggi persaudaraan tanpa memandang strata Sosial maupun kepentingan politik. Inilah warisan budaya yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

- Advertisement -

Acara semuarian ini bukan sekadar seremoni adat semata, tetapi merupakan wujud konkret dari kearifan lokal yang sarat makna. Di tengah arus modernisasi dan derasnya pengaruh budaya luar, upaya menjaga tradisi seperti ini patut diapresiasi. Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat telah menunjukkan bahwa adat istiadat bukan penghalang kemajuan, melainkan pondasi nilai untuk membangun keharmonisan sosial. Tradisi semuarian bisa menjadi simbol rekonsiliasi dan pemersatu lintas golongan jika diterapkan dengan tulus dan tanpa kepentingan politik. Ini membuktikan bahwa budaya bisa menjadi perekat yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.(TPN)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *