Kisah Kapal Uap De Berouw dalam Kanvas, Tsunami Krakatau

Mika Prathama A.Md

RILIS INDONESIA.Com, Bandar Lampung – Sebuah kapal uap tua bernama De Berouw pernah menjadi saksi bisu kedahsyatan letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Kapal yang kala itu sedang berlabuh di Pelabuhan Teluk Betung, secara ajaib terhempas oleh tsunami sejauh 3,3 kilometer ke dalam daratan, hingga berdiam di lembah Sungai Kuripan, Teluk Betung Barat, Kota Bandarlampung, Lampung. Sisa-sisa ketel kapal itu masih dapat ditemukan hingga kini di Kampung Kapal Brow, Desa Negeri Olok Gading, menjadi penanda bisu sejarah bencana yang mengguncang dunia.

Kisah dramatis kapal uap ini kemudian hidup kembali dalam sebuah lukisan karya pelukis Bambang Suroboyo, atau yang akrab disapa Bambang SBY. Karya tersebut merupakan bagian dari kelompok lukisan monumental bertajuk 1001 Legenda Krakatau. Dengan media unik bernama Swarna Tirta Jenggala, cat air berbasis kopi yang diracik dari pigmen organik dan anorganikk, Bambang menghadirkan kembali jejak peristiwa yang menakjubkan sekaligus memilukan itu di atas kanvas berukuran 135 x 100 cm.

site mode button

Kisah Kapal Uap De Berouw dalam Kanvas, Tsunami Krakatau
Berita Utama

- Advertisement -

Entertainment
10 September 2025RedaksiLeave a Commenton Kisah Kapal Uap De Berouw dalam Kanvas, Tsunami Krakatau
BANDAR LAMPUNG, (FN) – Sebuah kapal uap tua bernama De Berouw pernah menjadi saksi bisu kedahsyatan letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Kapal yang kala itu sedang berlabuh di Pelabuhan Teluk Betung, secara ajaib terhempas oleh tsunami sejauh 3,3 kilometer ke dalam daratan, hingga berdiam di lembah Sungai Kuripan, Teluk Betung Barat, Kota Bandarlampung, Lampung. Sisa-sisa ketel kapal itu masih dapat ditemukan hingga kini di Kampung Kapal Brow, Desa Negeri Olok Gading, menjadi penanda bisu sejarah bencana yang mengguncang dunia.

Kisah dramatis kapal uap ini kemudian hidup kembali dalam sebuah lukisan karya pelukis Bambang Suroboyo, atau yang akrab disapa Bambang SBY. Karya tersebut merupakan bagian dari kelompok lukisan monumental bertajuk 1001 Legenda Krakatau. Dengan media unik bernama Swarna Tirta Jenggala, cat air berbasis kopi yang diracik dari pigmen organik dan anorganikk, Bambang menghadirkan kembali jejak peristiwa yang menakjubkan sekaligus memilukan itu di atas kanvas berukuran 135 x 100 cm.

“Keistimewaan cat ini ada pada karakter kopi segar yang menimbulkan kekuatan warna, lembut sekaligus berkarakter. Saya tidak memakai ampas kopi yang ditempel dengan lem PVC, melainkan seduhan kopi segar yang diracik dengan teknik konservasi organik,” jelas Bambang kepada Pemred Mediafaktanews.com Junaidi Ismail, Rabu (10/9/25).

Bagi sang pelukis, karya ini bukan sekadar reproduksi visual, melainkan doa dan penghormatan. Ia menyebutkan bahwa re-ilustrasi kapal De Berouw ini ia buat berdasarkan imajinasi dan rujukan dari pelukis Mary Evans, yang dahulu pernah melukiskan kapal legendaris tersebut. Namun lebih dari itu, karya ini adalah sebuah pengingat akan kebesaran Sang Pencipta.

“Gunung Krakatau adalah ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dari sana kita belajar, betapa satu ciptaan dapat menghadirkan kesuburan dan berkah, tetapi juga mampu menghancurkan seketika. Melalui lukisan ini, saya ingin mengajak kita semua merenung dan mengapresiasi kebesaran-Nya,” tutur Bambang penuh haru.

Kapal uap yang berpindah dari laut ke daratan sejauh 3,3 kilometer itu bukan sekadar artefak sejarah, melainkan lambang betapa alam dapat bergerak di luar batas logika manusia. Sejarah mencatat, gelombang tsunami akibat letusan Krakatau merenggut lebih dari 36 ribu jiwa, mengguncang peradaban, dan menjadi kisah pilu yang dikenang lintas generasi.

Kini, melalui karya lukis yang artistik dan spiritual, tragedi itu diabadikan bukan sekadar untuk mengenang, tetapi juga untuk menyadarkan. Bahwa di balik kedahsyatan bencana, tersimpan pelajaran tentang kefanaan manusia, tentang keterbatasan daya, dan tentang kebesaran Allah SWT yang tak terperikan.

Dengan tekad membuat 1001 lukisan bertema Krakatau, Bambang SBY melangkah mandiri, menjadikan kanvas sebagai ruang doa, cat kopi sebagai untaian tasbih, dan setiap guratan kuas sebagai kesaksian imajinasi yang lahir dari luuka sejarah.

Semoga karya ini menjadi cahaya kecil yang menuntun generasi mendatang untuk tidak sekadar mengenaang letusan Krakatau, tetapi juga menundukkan hati, merendahkan diri, dan bersyukur atas setiap rahmat yang masih dianugerahkan-Nya. Wallahu A’lam Bishawab. (*)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *