RILIS INDONESIA.Com, Lampung – Di sudut trotoar depan Kantor Camat Kalianda, Lampung Selatan, berdiri sebuah gerobak sederhana yang setiap hari menarik perhatian orang-orang yang melintas. Dari kuali mungil di atas kompor, uap panas kacang rebus dan jagung rebus mengepul, menjadi saksi perjuangan sepasang suami-istri pedagang kaki lima.
Namun bukan hanya aroma dagangan yang membuat banyak orang berhenti. Pada dinding gerobak itu terpampang tulisan yang begitu menggetarkan hati
“Kacang rebus. Kami yang tidak bisa melihat keindahan dunia, hanya bisa meraba dan mendengar.
“Kalimat itu bukan sekadar kata-kata. Ia adalah suara hati seorang bapak tunanetra, yang memilih bertahan hidup dengan kerja keras, bukan dengan mengemis.
Dengan nada penuh keteguhan, sang bapak bercerita
“Di balik mata yang tidak melihat ini, saya tetap berjuang untuk kelangsungan hidup di Kota Kalianda. Saya ngontrak di Way Urang Lakar, sudah hampir setahun lamanya. Walaupun tidak bisa melihat, saya berusaha semampu saya, menjajakan kacang rebus dan jagung rebus di kota ini.
“Sambil menahan haru, ia menambahkan:
“Saya tidak bisa melihat jalan, tidak bisa melihat wajah orang-orang yang membeli dagangan saya. Tapi saya bisa merasakan, saya bisa mendengar, dan itulah kekuatan saya. Selama tangan ini masih bisa bekerja, saya akan terus berusaha.
Tak lama kemudian, seorang ibu singgah dengan motornya. Ia membeli kacang dan jagung rebus dalam jumlah cukup banyak. Saat ditanya alasannya, ia tersenyum tulus dan berkata
“Memang sengaja, Pak, supaya bapak bisa cepat pulang dan istirahat. Kacang dan jagung ini akan saya bagikan ke pengendara yang lewat. Semoga banyak orang ikut membeli dagangan bapak-ibu ini. Setidaknya kita bisa berbagi rezeki. Dan semoga pemerintah daerah bisa memberi perhatian bagi bapak yang penuh keterbatasan, yang selalu didampingi istri dengan setia.
Kalimat sederhana dari ibu itu seakan mewakili suara banyak hati: bahwa perjuangan tulus dalam keterbatasan tidak boleh dibiarkan sendiri. Dukungan masyarakat dan kepedulian pemerintah amatlah dinantikan untuk menjadi penopang hidup mereka.
Kisah ini bukan sekadar tentang dagangan di atas gerobak kecil. Ia adalah cerita tentang ketabahan, cinta, kepedulian, dan kesetiaan. Dari sudut trotoar di Kalianda, kita belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, dan kebaikan sesama selalu mampu menguatkan.(Red)

