Metro – RILIS INDONESIA. Com – Dalam perjalanan akademis, setiap mahasiswa pascasarjana kerap mengalami fase kebuntuan. Tugas akhir atau tesis bukan sekadar kewajiban formal, melainkan sebuah karya yang merepresentasikan cara berpikir, konsistensi, serta kedalaman analisis. Namun, sering kali inspirasi tak datang di ruang kelas, melainkan justru di ruang-ruang sunyi kehidupan, termasuk alam.
Begitulah yang saya rasakan saat memilih Gunung Bromo sebagai tempat pelarian akademis. Dengan semangat mencari ide, saya berangkat menuju salah satu ikon alam Indonesia ini. Perjalanan panjang menuju Bromo bukan hanya soal menikmati panorama, melainkan juga usaha menemukan kembali benang merah antara akademik, refleksi diri, dan makna kehidupan.
Sesampainya di sana, lautan pasir yang luas dan matahari terbit dari balik bukit Penanjakan menyuguhkan keheningan yang menyejukkan. Di titik inilah, saya merenung: tesis sejatinya bukan semata soal teori atau metodologi, melainkan juga tentang bagaimana kita menangkap denyut kehidupan masyarakat dan menyajikannya dengan cara ilmiah.
Bromo, dengan masyarakat Tengger-nya, mengajarkan saya banyak hal. Tentang harmoni manusia dan alam, tentang ritual budaya yang tetap terjaga, serta tentang kearifan lokal yang bisa menjadi sumber data maupun inspirasi. Dari sana, gagasan tesis saya mulai mengerucut—bahwa penelitian tak melulu harus mengejar kebaruan akademik semata, melainkan juga harus memberi manfaat bagi masyarakat tempat kita berpijak.
Perjalanan ke Bromo akhirnya menjadi titik balik. Alam yang agung dan budaya yang kaya berhasil membuka cakrawala berpikir. Inspirasi yang dicari-cari di balik tumpukan buku, justru hadir dalam keheningan pagi di atas kawah Bromo.
Mungkin benar adanya: terkadang, untuk menemukan arah dalam tulisan akademik, kita perlu keluar sejenak dari hiruk-pikuk kampus, menepi ke alam, lalu mendengarkan bisikan semesta.
(ali andica)

