Wabah Dengue Bangladesh: 245 Meninggal, Kasus Melonjak di September

Redaksi MRI
Oleh
3 Menit Baca
Kasus dengue melonjak di Bangladesh. (Foto: Istimewa)

RILIS INDONESIA.Com – Bangladesh, – Wabah demam berdarah dengue (DBD) mengkhawatirkan terjadi di Bangladesh. Sebanyak 245 orang meninggal dunia dan 79.620 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat dengue sejak Januari hingga memasuki Oktober 2026.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Bangladesh, angka kematian meningkat tajam pada September. Sebanyak 148 orang meninggal akibat dengue sepanjang bulan tersebut, dibandingkan 43 kematian pada Agustus dan 36 kematian pada Juli.

Pada Rabu, enam orang kembali dilaporkan meninggal akibat dengue. Pada hari yang sama, sebanyak 1.948 pasien baru dirawat di rumah sakit. Saat ini, 5.485 pasien masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan Bangladesh.

Para ahli memperingatkan penularan dengue masih dapat meningkat hingga Oktober karena pengaruh curah hujan. Hujan yang terjadi pada September dinilai dapat mendorong peningkatan populasi nyamuk Aedes dalam beberapa pekan berikutnya.

- Advertisement -

“Pengendalian nyamuk yang ditargetkan serta pencegahan yang lebih ketat di tingkat rumah tangga diperlukan,” kata pakar kesehatan masyarakat Bashar, dikutip dari CNA.

DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Penyakit tersebut umumnya menyebabkan demam serta nyeri otot dan persendian. Pada kasus berat, pasien membutuhkan pemantauan di rumah sakit untuk mencegah komplikasi.

Bashar mengatakan penyebaran nyamuk Aedes yang semakin meluas ke luar kota-kota besar membuat dengue menjadi tantangan nasional bagi Bangladesh.

Menurutnya, pengasapan atau fogging menggunakan pestisida saja tidak cukup untuk mengendalikan populasi nyamuk. Upaya tersebut perlu disertai pemberantasan tempat-tempat yang menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.

Perubahan pola cuaca juga dinilai membuat pola penularan dengue semakin sulit diprediksi. Studi yang mencakup wilayah Bangladesh selama 22 tahun hingga 2022 menemukan adanya kaitan antara suhu dan curah hujan pada bulan-bulan sebelumnya dengan transmisi dengue.

Perubahan pola hujan dan kelembapan dapat memengaruhi jumlah nyamuk sekaligus tingkat penularan penyakit. Kondisi tersebut juga dapat mengubah perilaku musiman nyamuk Aedes, sehingga nyamuk tetap aktif lebih lama dan periode perkembangbiakannya menjadi lebih panjang.

Temuan itu sejalan dengan perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap pola penyakit yang ditularkan nyamuk.

Pencegahan dengue dinilai tidak dapat hanya mengandalkan program pemerintah. Masyarakat juga perlu berperan dengan menghilangkan genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Mantan Direktur Institute of Epidemiology, Disease Control and Research (IEDCR), Mahmudur Rahman, mengatakan pencegahan penting untuk mengurangi beban rumah sakit, terutama ketika Bangladesh menghadapi wabah penyakit lain secara bersamaan.

“Sistem kesehatan memiliki kapasitas terbatas untuk menghadapi wabah yang terjadi secara bersamaan. Mencegah infeksi dengan mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk sangat penting,” katanya.

Beban sistem kesehatan Bangladesh semakin berat karena negara tersebut juga menghadapi wabah campak. Data pemerintah menunjukkan terdapat 21.520 kasus campak terkonfirmasi sejak 15 Maret. Lebih dari 190.000 orang telah mencari perawatan medis karena dugaan campak atau gejala serupa. (Ms/CNA/detikcom/MRI)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *