RILIS INDONESIA.Com – Sidoarjo, – Badan Gizi Nasional (BGN) mencopot Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Rafli Ridho, menyusul kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 730 orang di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Operasional dapur SPPG Kalitengah juga dihentikan setelah kasus tersebut mencuat.
“Sudah. Begitu kejadian, dapurnya tidak dioperasionalkan, kepala dapurnya dicopot,” kata Wakil Kepala BGN Trenggono saat berada di RSUD Notopuro Sidoarjo, Jumat (4/9/2026), dilansir detikJatim.
Trenggono mengatakan BGN terus mengevaluasi tata kelola pelaksanaan program MBG, terutama terkait kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP).
Menurutnya, kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG umumnya berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap prosedur yang telah ditetapkan.
“Kita terus memperbaiki tata kelola. Kita terus memperbaiki, mengevaluasi apa kekurangannya. Tetapi secara SOP dan sebagainya sudah sesuai ya, yang keracunan rata-rata ketidakpatuhan terhadap SOP, itu yang perlu digaris bawahi,” ujarnya.
Trenggono juga dijadwalkan meninjau langsung dapur SPPG Kalitengah untuk melihat kondisi serta mengevaluasi kekurangan yang harus diperbaiki oleh mitra pengelola.
Jumlah korban keracunan dalam kasus tersebut tercatat mencapai 730 orang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo hingga Kamis (3/9/2026) pukul 15.10 WIB, sebanyak 706 korban telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.
Sebanyak 23 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan, sedangkan satu pasien masih dalam observasi di RSUD Notopuro Sidoarjo.
“Sampai jam 15.10 WIB, data terakhir adalah masih rawat opname itu 23 orang. Kemudian yang sudah kita rawat jalankan, artinya sudah berobat jalan itu 706. Dan saat ini masih ada observasi pasien 1 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina.
Dinas Kesehatan Sidoarjo juga menggandeng Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya untuk menguji sejumlah sampel guna mengetahui penyebab keracunan.
Sampel yang diperiksa meliputi makanan yang disajikan pada hari kejadian, seperti nasi, telur dan sayuran. Petugas juga mengambil sampel muntahan pasien untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Pada saat peristiwa itu terjadi, otomatis kami bergerak. Salah satunya dari bagian kesehatan masyarakat, khususnya Kesling, mengambil sampel,” ujar Lakhsmie.
Kasus keracunan itu bermula setelah ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di sejumlah sekolah di Kecamatan Tanggulangin menyantap menu MBG yang dipasok SPPG Kalitengah pada Selasa (1/9/2026) siang.
Hingga kini, hasil pengujian sampel untuk memastikan sumber penyebab keracunan masih ditunggu. (*)
