Tewasnya Warga Karena Bansos, Rumah Kepala Kampung Dibakar Ribuan Massa

Mika Prathama A.Md
465 Views
3 Min Read
3 Min Read

RILIS INDONESIA.Com – Lampung Tengah – Desa Gunungagung, Kecamatan Terusannunyai, diguncang kerusuhan besar pada Sabtu pagi (17/5/2025), ketika ribuan warga turun ke jalan dan melampiaskan kemarahan mereka dengan membakar rumah Kepala Kampung SKR.

Kejadian bermula sekitar pukul 09.10 WIB. Namun, api kemarahan warga telah tersulut lebih dulu akibat konflik antara dua warga, Sur dan Dw, yang berselisih karena belum jelasnya penyaluran bantuan beras dari program Bantuan Pangan Nasional (Bapan/Bansos).

Pertikaian yang awalnya berupa adu argumen berubah menjadi bentrokan fisik berdarah. Sur tewas di tempat akibat luka senjata tajam. Kabar kematiannya menyebar dengan cepat, memicu ledakan emosi warga.

“Masih pagi waktu itu, banyak orang belum keluar rumah. Tapi begitu kabar tersebar, warga langsung berdatangan. Awalnya puluhan, kemudian ratusan, hingga menjadi ribuan,” tutur seorang saksi mata.

- Advertisement -

Rumah Kepala Kampung SKR menjadi sasaran pelampiasan. Api melalap rumah beserta belasan jeriken berisi BBM dan sejumlah kendaraan. Diduga, bagian belakang rumah tersebut digunakan sebagai tempat penimbunan BBM ilegal yang selama ini jadi rahasia umum di kalangan warga.

“Kami sudah lama tahu soal gudang BBM di sana, tapi tak pernah ada tindakan. Baru sekarang, setelah terbakar, semuanya terlihat jelas,” ujar seorang warga yang tak ingin disebutkan namanya.

Pihak kepolisian dari Polres Lampung Tengah segera turun tangan. Kabag Operasi Kompol Edy Qorinas memimpin pengamanan langsung ke lokasi guna mencegah kerusuhan semakin meluas.

“Saat ini situasi sudah terkendali. Massa sudah membubarkan diri dan lalu lintas di jalur timur Sumatra kembali normal. Namun, pengamanan tetap kami perketat,” ujar Kompol Edy, mewakili Kapolres AKBP Alsyahendra.

Namun bagi masyarakat Gunungagung, insiden ini bukan sekadar tragedi bansos. Mereka melihatnya sebagai puncak dari gunung es—akumulasi ketidakadilan, kekecewaan, dan rasa terabaikannya suara rakyat kecil oleh kekuasaan.

Tragedi di Desa Gunungagung bukan sekadar persoalan bantuan sosial yang tidak merata, tetapi cerminan dari luka dalam yang telah lama dibiarkan menganga. Ketika sistem gagal menjawab jeritan rakyat kecil, maka keadilan pun dicari lewat jalan amarah.

Kematian Sur dalam konflik berebut bantuan bukanlah awal, melainkan akibat dari ketidakpedulian yang menahun. Ketika rakyat dibiarkan bersaing demi hak dasar seperti beras, maka kita patut bertanya: di mana negara saat tanggung jawab sosial berubah menjadi pertumpahan darah?

Pembakaran rumah kepala kampung adalah sinyal keras—bahwa kepercayaan publik telah runtuh. Dugaan penimbunan BBM ilegal di balik rumah tersebut, yang disebut sebagai “rahasia umum,” menambah bara pada kekecewaan yang membara.( TPN)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *