RILIS INDONESIA.Com, Bandar Lampung – Sebuah karya seni rupa terbaru dari perupa Bambang Suroboyo alias Bambang SBY menghadirkan pengalaman visual dan emosional yang berbeda. Dengan judul “Atmosfer Saksi Bisu”, sang seniman menuturkan balada alam yang dianugerahi, melalui sapuan kuas yang ia sebut “Brush Strokes” di atas bentangan “Kanvas Langit Biru”.
Dalam karyanya, Bambang mengaplikasikan filosofi “Swarna Tirta Jenggala” (STJ), sebuah perenungan tentang kejernihan, keheningan, sekaligus kesucian alam ke dalam ruang udara yang hening membisu. Atmosfer dalam lukisan itu digambarkan sebagai saksi abadi perjalanan semesta, yang merekam setiap kisah manusia dan kehidupan tanpa pernah bersuara.
“Angin adalah napas setia yang membawa cerita masa lalu,” ujar Bambang SBY dalam pernyataan khususnya kepada Pemred Mediafaktanews.com Junaidi Ismail, Minggu (7/9/2025).
Angin dalam karyanya bukan hanya hembusan, melainkan simbol pergerakan waktu yang mengangkat debu kenangan, menyalakan kembali memori yang kerap terlupakan, dan menyingkap misteri perjalanan bumi pada porosnya.
Gumpalan awan yang terapung dalam komposisi lukisan menjadi saksi bisu dari gelak tawa dan tangis dunia. Matahari dan rembulan diposisikan silih berganti, menerangi ruang batin terdalam, seolah menunjukkan bahwa kosmos senantiasa mencatat setiap denyut kehidupan manusia.
Bagi para penikmat seni, karya ini bukan sekadar visualisasi lanskap kosmik, melainkan perenungan eksistensial. Atmosfer sebagai metafora digambarkan setia merekam, tak pernah menuntut, namun senantiasa hadir dalam setiap desahan, setiap hembusan ruang dan waktu.
Pesan spiritual turut mengalir di dalamnya. Bambang menegaskan bahwa keheningan kosmik ini adalah bagian dari keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang Maha Pencipta, yang mengatur tata surya bergerak tanpa henti mengelilingi matahari, dari barat ke timur dalam orbit abadi.
Seorang apresian seni, Rahayu, mengaku tersentuh saat pertama kali menyaksikan karya ini. “Ada rasa seolah kita sedang diajak merenung tentang perjalanan hidup, tentang bagaimana alam semesta menjadi saksi dari apa yang kita jalani,” ujarnya.
“Atmosfer Saksi Bisu” akhirnya hadir bukan hanya sebagai lukisan, melainkan medium spiritual dan emosional yang menjembatani seniman, wartawan, penikmat seni, hingga khalayak umum dalam satu ruang refleksi bersama. (Mika)

