RILIS INDONESIA.COM – Bandar Lampung, 27 Oktober 2025 – Di tengah fenomena krisis literasi yang melanda generasi muda dan derasnya arus informasi di media sosial, sebuah inisiatif bernama “Api Literasi” hadir untuk menghidupkan kembali budaya membaca, menulis, dan berdiskusi di kalangan mahasiswa. Kegiatan perdana ini sukses digelar pada Minggu malam, 26 Oktober 2025, di Room J Coffee, Perum Griya Sukarame.
Acara yang diinisiasi oleh Sahabat sahabat Dewan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Raden Intan lampung, dengan bertujuan untuk menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan literasi mereka. “Sebagai insan terdidik, kita tidak semestinya acuh terhadap fenomena sosial hari ini. Terdapat banyak sekali Persoalan yang harus kita urai secara seksama. Krisis literasi di tubuh generasi muda menjadi keresahan kita bersama. Kita punya kuasa atas diri kita sendiri untuk mengambil langkah, jangan sampai menjadi konsumen pengetahuan yang pasif,” ujar Muhammad Iman Ibrohim, Gubernur FDIK.
Kegiatan ini bukan gerakan seremonial belaka, namun gerakan yang berangkat dari langkah nyata atas keresahan bersama. Kegiatan ini berlangsung dengan harmonis tanpa menghilangkan esensi dari sebuah kegiatan. Diisi dengan membaca buku bersama, menceritakan isi bacaan, dan sharing pengalaman seputar dunia literasi. “api literasi yang di gagas oleh sahabat-sahabat DEMA FDIK ini sangat lah penting, karena ini bukan hanya sekedar kegiatan kongkow-kongkow yang tidak membuahkan hasil atau gagasan. Namun ini menjadi ruang untuk melakukan perubahan dalam nalar berfikir bagi para mahasiswa yang memiliki kesadaran akan pentingnya literasi dalam kehidupan dan bernegara,” kata Ade Prayoga, Presiden Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung.
Api Literasi diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri dan berkontribusi positif bagi masyarakat. “Api literasi menjadi harapan nyata dalam gerakan yg menumbuhkan empati, memperluas wawasan, dan memperkuat peran generasi muda dalam menjawab persoalan bangsanya. Sebab, membaca bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk melahirkan ke saling pahaman secara mendalam agar lahir kepedulian antar sesama anak bangsa atau bahkan sesama manusia. Menulis bukan hanya untuk mengekspresikan diri, tetapi untuk menggerakkan, membangun narasi dan wacana. Juga pada proses berpikir bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk membangun bersama,” pungkas Muhammad Iman Ibrohim, Gubernur FDIK. (jo/MRI)

