Djong Jawa Menyingkap Kejayaan Maritim Nusantara

Mika Prathama A.Md
4 Menit Baca

RILIS INDONESIA.Com, Bandar Lampung — Pelukis Bambang Suroboyo yang akrab disapa Bambang SBY XI Legenda Krakatau, kembali mengurai makna lukisannya kepada Pemimpin Redaksi Mediafaktanews.com, Junaidi Ismail, di Bandar Lampung, Jumat (16/01/2026).

Kali ini, Bambang masih setia mengangkat tema agung Kapal Djong Jawa, mahakarya teknologi maritim Nusantara yang bukan sekadar alat pelayaran, melainkan simbol peradaban, doa, dan keberanian manusia Nusantara dalam menaklukkan samudra dengan restu Sang Pencipta.

Menurut Bambang, Djong Jawa adalah bukti bahwa leluhur Nusantara telah mencapai puncak kecanggihan teknologi maritim jauh sebelum Eropa menguasai lautan. Kapal ini bahkan disebut memiliki ukuran dan kekuatan yang melampaui kapal-kapal Eropa pada zamannya, termasuk kapal legendaris Portugis, Flor de la Mar.

“Djong Jawa bukan kapal biasa. Ia adalah manifestasi kecerdasan, kesabaran, dan ketundukan manusia kepada hukum alam yang diciptakan Tuhan,” ujar Bambang lirih, sembari menatap layar-layar cokelat kemerahan yang seolah berhembus oleh angin sejarah.

- Advertisement -

Secara teknis, Djong Jawa merupakan kapal raksasa. Catatan sejarah menyebutkan panjangnya dapat mencapai sekitar 80 meter, dengan bobot mati hingga 2.000 ton dan bobot perpindahan lebih dari 5.500 ton. Kapal ini mampu mengangkut hingga 1.000 orang dalam satu pelayaran, angka yang luar biasa pada masanya.

Sebagai perbandingan, Flor de la Mar, kapal kebanggaan Portugis abad ke-16, hanya memiliki bobot sekitar 400 ton. Perbedaan inilah yang melandasi klaim bahwa Djong Jawa bisa mencapai lima kali lipat ukuran kapal Eropa tersebut.

Namun keunggulan Djong Jawa tak berhenti pada ukuran semata.

Djong Jawa dibangun menggunakan teknik konstruksi unik, papan-papan kayu jati tebal disusun berlapis dan diikat dengan serat tumbuhan, tanpa paku besi. Ketebalan dan lapisan kayu jati ini menjadikannya sangat tangguh. Bahkan, catatan sejarah menyebutkan bahwa tembakan meriam kapal Eropa hanya mampu menembus dua lapis lambung Djong Jawa.

Kayu jati yang digunakan pun dikenal memiliki ketahanan luar biasa terhadap cuaca dan air laut, sebuah anugerah alam Nusantara yang dimanfaatkan dengan penuh kearifan.

“Ini bukti bahwa leluhur kita membangun dengan rasa syukur, bukan keserakahan. Mereka tidak merusak alam, tetapi berdialog dengannya,” tutur Bambang.

Para pelaut Nusantara telah lama menguasai navigasi jalur bintang (star path navigation). Pada era Majapahit, kompas dan magnet sudah digunakan untuk pelayaran samudra lepas. Mereka membaca langit sebagaimana ulama membaca kitab dengan ketekunan, keimanan, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan Yang Maha Agung.

Dengan kapasitas muatan besar, Djong Jawa menjadi tulang punggung perdagangan, pelayaran militer, dan pertukaran budaya dalam jaringan internasional Asia Tenggara. Ia bukan sekadar kapal, melainkan penghubung peradaban.

Keistimewaan karya Bambang SBY XI tidak hanya terletak pada tema, tetapi juga pada mediumnya. Ia menggunakan kanvas hasil riset konservasi seni yang dinamainya Swarna Tirta Jenggala (STJ), perpaduan bahan organik dan anorganik dari hasil bumi Lampung.

Dalam bahasa Jawa kuno, Swarna Tirta Jenggala berarti air emas dari hutan kerajaan, sebuah simbol kesucian, kemakmuran, dan keseimbangan alam. Kanvas ini bukan sekadar alas lukisan, melainkan ruang spiritual tempat sejarah, alam, dan nilai-nilai ketuhanan bertemu.

Melalui Djong Jawa, Bambang SBY XI seolah mengajak kita merenung, bahwa kejayaan sejati bukan hanya tentang menguasai lautan, tetapi tentang menjaga harmoni antara ilmu, iman, dan alam ciptaan Tuhan.

Dan di hadapan lukisan itu, Djong Jawa pun terus berlayar, membawa pesan kebesaran Nusantara kepada generasi hari ini dan esok. (Red)

Total Views: 0
Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *