RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro Laksanakan Survei Simulasi Akreditasi Bersama KARS sebagai Upaya Penguatan Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien

RILIS2225
Oleh
3 Pengunjung
7 Menit Baca

RILIS INDONESIA.COM – Metro, 29 Juli 2026 – RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui pelaksanaan Survei Simulasi Akreditasi yang difasilitasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan rumah sakit dalam menghadapi survei akreditasi sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana implementasi standar mutu dan keselamatan pasien telah diterapkan di seluruh unit pelayanan.

Survei simulasi berlangsung selama tiga hari, yaitu pada 29 Juli, 31 Juli, dan 1 Agustus 2026, dengan pelaksanaan yang memadukan metode daring (online) dan luring (onsite). Pada hari pertama, Rabu (29/7), kegiatan dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Selanjutnya, pada Jumat (31/7) dan Sabtu (1/8), kegiatan dilanjutkan secara luring melalui proses telusur di berbagai unit pelayanan RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro.

Kegiatan ini menghadirkan tiga surveyor berpengalaman dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), yaitu dr. Hardjanto, Sp.B., MARS., CHAE, dr. Nungky NK., MS., M.Kes., FISQua., CPCCP., CHCM, dan H. Dedy Ahmad S., M.Kep., FISQua. Ketiga surveyor tersebut memiliki kompetensi dan pengalaman dalam melakukan penilaian terhadap penerapan standar akreditasi rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia.

- Advertisement -

Survei simulasi merupakan bagian penting dari proses pembinaan mutu rumah sakit. Melalui kegiatan ini, rumah sakit dapat mengidentifikasi berbagai kekuatan yang telah dimiliki sekaligus menemukan area-area yang masih memerlukan penyempurnaan sebelum pelaksanaan survei akreditasi resmi. Simulasi juga memberikan kesempatan kepada seluruh jajaran rumah sakit untuk memahami mekanisme survei secara lebih komprehensif sehingga setiap unit mampu mempersiapkan diri sesuai standar yang telah ditetapkan KARS.

Kegiatan pembukaan secara daring diikuti oleh jajaran direksi, manajemen, kepala bidang, kepala instalasi, kepala ruangan, ketua komite, ketua kelompok kerja akreditasi, serta seluruh penanggung jawab standar akreditasi di lingkungan RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro. Dalam sesi tersebut disampaikan gambaran umum mengenai pelaksanaan simulasi, tujuan kegiatan, agenda survei, serta mekanisme telusur yang akan dilakukan pada hari-hari berikutnya.

Selain itu, rumah sakit juga memaparkan profil institusi, perkembangan layanan, capaian mutu, serta berbagai inovasi yang telah dilakukan dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Pemaparan tersebut menjadi bagian awal bagi surveyor untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi rumah sakit sebelum melakukan penilaian secara langsung di lapangan.

Memasuki hari kedua dan ketiga, kegiatan difokuskan pada pelaksanaan telusur lapangan. Para surveyor melakukan observasi terhadap implementasi standar akreditasi di berbagai unit pelayanan, mulai dari instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, kamar operasi, instalasi farmasi, laboratorium, radiologi, hingga unit-unit penunjang lainnya. Selain melakukan observasi terhadap pelayanan, surveyor juga meninjau kelengkapan dokumen, kebijakan, prosedur operasional standar, serta bukti implementasi yang menjadi indikator pemenuhan standar akreditasi.

Dalam proses telusur tersebut, surveyor melakukan wawancara dengan pimpinan rumah sakit, tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan lainnya, serta pegawai yang terlibat dalam pelayanan. Wawancara bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan dan prosedur yang telah disusun benar-benar dipahami dan diterapkan secara konsisten dalam aktivitas pelayanan sehari-hari.

Tidak hanya berfokus pada aspek administratif, survei simulasi juga menitikberatkan pada implementasi budaya mutu dan keselamatan pasien. Surveyor mengamati bagaimana koordinasi antarprofesi dilakukan, bagaimana proses identifikasi pasien diterapkan, bagaimana komunikasi efektif dijalankan, hingga bagaimana rumah sakit mengelola risiko serta melakukan pelaporan dan tindak lanjut terhadap insiden keselamatan pasien.

Pelaksanaan simulasi akreditasi juga menjadi sarana pembelajaran bagi seluruh pegawai. Berbagai masukan, saran, dan rekomendasi yang diberikan oleh surveyor diharapkan mampu menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara berkelanjutan. Dengan demikian, simulasi tidak hanya berorientasi pada pencapaian status akreditasi, tetapi juga pada pembentukan budaya kerja yang mengedepankan mutu, keselamatan, profesionalisme, dan kepuasan pasien.

Akreditasi rumah sakit pada hakikatnya merupakan proses penilaian terhadap pemenuhan standar pelayanan yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara berkesinambungan. Oleh karena itu, seluruh unsur rumah sakit memiliki peran penting dalam memastikan setiap standar diterapkan secara konsisten dalam kegiatan pelayanan sehari-hari.

Melalui simulasi ini, setiap unit kerja memperoleh kesempatan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara standar yang dipersyaratkan dengan kondisi aktual di lapangan. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun langkah-langkah perbaikan sehingga seluruh proses pelayanan dapat berjalan sesuai prinsip keselamatan pasien, efektivitas pelayanan, efisiensi, serta tata kelola rumah sakit yang baik.

Komitmen terhadap mutu pelayanan tidak hanya ditunjukkan melalui kelengkapan dokumen, tetapi juga melalui implementasi nyata dalam setiap proses pelayanan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, seluruh tenaga kesehatan dan pegawai rumah sakit didorong untuk terus meningkatkan kompetensi, memperkuat kolaborasi lintas profesi, serta membangun budaya kerja yang berorientasi pada pasien.

Selama proses telusur berlangsung, para surveyor memberikan berbagai catatan konstruktif terkait penerapan standar akreditasi. Masukan tersebut meliputi penyempurnaan dokumentasi, penguatan implementasi kebijakan, peningkatan koordinasi antar unit, serta konsistensi pelaksanaan berbagai indikator mutu dan keselamatan pasien. Seluruh rekomendasi tersebut diterima sebagai bagian dari proses pembelajaran yang akan ditindaklanjuti oleh masing-masing unit kerja.

Pelaksanaan survei simulasi ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi seluruh elemen rumah sakit. Direksi, manajemen, tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan lainnya, tenaga penunjang, hingga staf administrasi memiliki tanggung jawab yang sama dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, efektif, dan berpusat pada kebutuhan pasien.

Keberhasilan akreditasi bukan hanya diukur dari hasil penilaian akhir, melainkan dari kemampuan rumah sakit dalam mempertahankan budaya mutu secara berkelanjutan. Oleh karena itu, hasil simulasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh sivitas hospitalia RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro untuk terus melakukan inovasi, memperkuat sistem pelayanan, meningkatkan kepatuhan terhadap standar, serta menjadikan keselamatan pasien sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan pelayanan.

Melalui pelaksanaan Survei Simulasi Akreditasi bersama Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro menegaskan komitmennya untuk terus berkembang sebagai rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan berkualitas, profesional, aman, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Berbagai rekomendasi yang diperoleh dari para surveyor akan menjadi bahan evaluasi sekaligus acuan dalam melakukan penyempurnaan sistem pelayanan sehingga rumah sakit semakin siap menghadapi survei akreditasi resmi dan mampu mempertahankan standar pelayanan yang unggul secara berkesinambungan.(Red)

Total Views: 3
Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *