RILIS INDONESIA.Com – Lampung – Komandan Brigade Infanteri 4 Marinir/Bhakti Samudera (Danbrigif 4 Mar/BS) Kolonel Marinir Kanang Budi Raharjo, M.Tr.Hanla., CHRMP., menghadiri Upacara Pembaretan Siswa Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) Angkatan XLVI Gelombang I dan Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) Angkatan XLVI Gelombang I Kejuruan Marinir Tahun Anggaran 2026.
Upacara khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Panglima Korps Marinir dan digelar di Pantai Baruna, Malang Selatan, pada Senin, 12 Oktober 2026. Lokasi tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Pantai Baruna dikenal sebagai kawah candradimuka bagi prajurit Marinir, tempat ditempa mental, fisik, dan karakter juang sebelum mereka resmi menyandang baret ungu kebanggaan Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Kehadiran Danbrigif 4 Mar/BS dalam upacara ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pembinaan personel serta penyiapan generasi prajurit Marinir yang profesional, tangguh, disiplin, dan memiliki jiwa juang tinggi. Sebagai salah satu satuan tempur di bawah Korps Marinir, Brigif 4 Mar/BS memiliki kepentingan langsung terhadap kualitas prajurit-prajurit muda yang baru dilantik tersebut. Sebab, sebagian dari mereka nantinya akan memperkuat jajaran satuan-satuan Marinir di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah Lampung.
Sebanyak 752 prajurit dikukuhkan dalam upacara tersebut. Rinciannya terdiri atas 453 siswa Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) Prajurit Karier dan 299 siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) Prajurit Karier. Jumlah tersebut mencerminkan besarnya kebutuhan organisasi akan prajurit-prajurit baru yang siap mengemban tugas negara di masa depan.
Keberhasilan menyelesaikan pendidikan menjadi bekal awal bagi para prajurit untuk mengimplementasikan kemampuan, ketangguhan mental, serta nilai-nilai keprajuritan dalam menghadapi tantangan tugas di lingkungan Korps Marinir. Pendidikan yang telah mereka jalani bukanlah pendidikan biasa. Mereka ditempa melalui berbagai tahapan yang berat, mulai dari pembentukan dasar keprajuritan, kesamaptaan jasmani, kemampuan menembak, bela diri militer, hingga pengetahuan kejuruan Marinir sesuai dengan kecabangan masing-masing.
Upacara pembaretan ini merupakan momentum penting bagi para siswa dalam menempuh perjalanan pengabdian sebagai prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Prosesi penyematan baret bukan sekadar seremonial. Penyematan baret Marinir menjadi simbol kehormatan, kebanggaan, serta tanggung jawab yang harus dijunjung tinggi oleh setiap prajurit dalam melaksanakan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.
Baret ungu yang kini tersemat di kepala mereka memiliki makna mendalam. Warna ungu melambangkan keberanian, kesetiaan, dan pengabdian tanpa pamrih. Di balik baret itu, tersimpan amanah besar untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik di darat maupun di laut.
Melalui upacara pembaretan ini, para siswa diharapkan mampu menghayati nilai-nilai keprajuritan, meningkatkan loyalitas, menjaga kehormatan Korps Marinir, serta senantiasa memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI dalam setiap pelaksanaan tugas. Tiga pedoman tersebut menjadi kompas moral yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun.
Loyalitas kepada negara, ketaatan kepada pimpinan, serta kepedulian terhadap rakyat menjadi ciri khas prajurit Marinir. Di tengah dinamika tantangan keamanan yang semakin kompleks, mulai dari ancaman di wilayah perbatasan, bencana alam, hingga tugas-tugas operasi militer selain perang, prajurit Marinir dituntut untuk selalu siap, cepat, dan profesional.
Kehadiran Kolonel Marinir Kanang Budi Raharjo dalam kesempatan tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi para prajurit muda. Dukungan dari para komandan satuan menjadi bukti bahwa pembinaan personel tidak berhenti pada lembaga pendidikan saja, tetapi terus berlanjut di satuan tempat mereka bertugas nantinya.
Dengan dikukuhkannya 752 prajurit baru ini, Korps Marinir diharapkan semakin kuat dan semakin solid dalam menjalankan tugas pokoknya sebagai pasukan pendarat amfibi TNI Angkatan Laut yang senantiasa siap menjaga keutuhan bangsa dan negara. (**)
