RILIS INDONESIA.Com – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam tiga pekan terakhir tidak hanya diwarnai serangan intens, tetapi juga menimbulkan kerugian besar di pihak Washington.
Laporan The Wall Street Journal, Kamis (26/3/2026), menyebut sejumlah aset militer canggih milik AS rusak hingga hancur akibat serangan balasan Iran yang didominasi rudal balistik dan drone.
Mantan pejabat anggaran Pentagon, Elaine McCusker, memperkirakan total kerugian dalam tiga minggu pertama konflik mencapai 1,4 miliar hingga 2,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp23 triliun hingga Rp49 triliun. Nilai tersebut termasuk kerusakan radar di pangkalan militer AS di Qatar.
Kerugian juga terjadi pada armada udara. Tiga jet tempur F-15E Strike Eagle dilaporkan jatuh setelah salah tembak oleh jet F/A-18 milik Kuwait pada 1 Maret. Selain itu, satu jet tempur siluman F-35A Lightning II mengalami pendaratan darurat pada 19 Maret.
Di sektor drone, lebih dari selusin unit MQ-9 Reaper dilaporkan hilang sejak awal perang. Sebagian besar ditembak jatuh oleh rudal Iran, sementara lainnya hancur di darat atau akibat insiden salah tembak.
Insiden juga menimpa pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker. Dua pesawat bertabrakan di atas Irak pada 12 Maret, menewaskan enam awak. Selain itu, lima unit KC-135 lainnya mengalami kerusakan akibat serangan rudal Iran di Arab Saudi.
Iran turut menargetkan sistem pertahanan penting milik AS dan sekutunya. Radar AN/TPY-2 di Yordania serta radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, dilaporkan mengalami kerusakan. Serangan juga menyasar fasilitas militer di Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi.
Di laut, kapal induk USS Gerald R Ford mengalami kebakaran pada 12 Maret yang menyebabkan kerusakan di beberapa bagian kapal. Saat ini kapal tersebut menjalani perbaikan di Yunani.
Kerugian besar tersebut diperkirakan akan dimasukkan dalam permintaan anggaran tambahan Pentagon senilai 200 miliar dolar AS. Dana itu akan digunakan untuk mengganti berbagai aset militer yang rusak atau hilang selama konflik berlangsung.
EDITOR : MriNews

