RILIS INDONESIA.Com – Washington – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana 15 poin Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Gaza. Netanyahu menegaskan Israel tidak akan menarik pasukannya sebelum Hamas benar-benar dilucuti.
“Israel menolak dokumen 15 poin tersebut,” kata Netanyahu dalam rapat kabinet pada Minggu (9/8/2026) waktu setempat.
Ia menegaskan militer Israel tidak akan melakukan penarikan pasukan sampai Hamas benar-benar dilucuti, dan akan terus mencegah ancaman terhadap pasukan serta warga Israel.
Rencana Trump antara lain mencakup “pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya, penarikan pasukan Israel dari Gaza, pembentukan Dewan Perdamaian (Board of Peace) untuk mengawasi pelaksanaan kesepakatan, serta rekonstruksi Gaza”.
Rencana tersebut juga mengatur proses transisi dan keamanan Gaza setelah perang, dengan tujuan mencegah wilayah itu kembali menjadi basis serangan terhadap Israel.
Trump sebelumnya mengatakan Hamas telah setuju untuk melucuti senjata dengan syarat Israel menarik pasukannya dari Gaza. Namun, Netanyahu menegaskan pelucutan senjata Hamas harus dilakukan terlebih dahulu dan tidak boleh sekadar “pelucutan senjata fiktif”.
Sementara itu, Hamas mengatakan tetap berkomitmen terhadap kesepakatan dan siap terlibat secara serius dalam pelaksanaan rencana tersebut. Kelompok itu juga meminta para mediator memastikan seluruh pihak mematuhi kesepakatan.
Nickolay Mladenov, diplomat senior yang ditugaskan melaksanakan rencana perdamaian Trump, mengatakan pembahasan dengan Israel masih berlangsung. Ia membela rencana tersebut sebagai “satu-satunya jalan ke depan” untuk mencegah terulangnya serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Mladenov mengatakan penarikan pasukan Israel tidak akan dilakukan sebelum dapat diverifikasi bahwa Hamas telah mengambil langkah untuk melucuti senjatanya.
Netanyahu menyebut Israel kini tengah berdiskusi dengan pejabat AS mengenai langkah selanjutnya. Namun, ia menghadapi tekanan dari kelompok sayap kanan dalam koalisinya untuk mengambil sikap keras terhadap Gaza.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir bahkan menolak rancangan tersebut dan menyebutnya “tidak dapat diterima”.
Perang Gaza pecah setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera. Serangan itu kemudian dibalas Israel dengan operasi militer di Gaza yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 orang. (*)

