Houthi Gempur Pangkalan Udara King Khalid Arab Saudi Dengan Rudal Dan Drone`

Redaksi MRI
Oleh
3 Menit Baca

Sanaa, RILIS INDONESIA.Com – Kelompok Houthi melancarkan serangan menggunakan puluhan rudal balistik dan drone ke sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, di tengah pertempuran yang semakin sengit di Yaman.

Dilansir Al Jazeera, Senin (14/9/2026), Houthi menyatakan serangan tersebut menyasar fasilitas militer dan infrastruktur di Pangkalan King Khalid, termasuk hanggar pesawat, instalasi radar, landasan pacu, serta gudang amunisi.

Houthi mengklaim serangan itu menghasilkan “serangan langsung” terhadap pangkalan tersebut. Hingga laporan diterbitkan, belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Arab Saudi mengenai klaim Houthi.

Kelompok yang juga dikenal sebagai Ansar Allah itu mengatakan serangan tersebut merupakan balasan atas ofensif Saudi di Yaman. Menurut Houthi, lebih dari 300 serangan udara telah dilancarkan ke berbagai wilayah Yaman dalam lima hari terakhir.

- Advertisement -

Pertempuran pada saat yang sama terus berlangsung di Yaman. Pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi dilaporkan berhasil merebut kembali sejumlah posisi dari Houthi dan bergerak maju di wilayah barat Provinsi Taiz setelah menggagalkan ofensif kelompok tersebut.

Serangan udara juga dilaporkan terus menghantam konsentrasi Houthi di pesisir barat Yaman, termasuk Mokha, Dhubab, dan wilayah sekitarnya.

Houthi sebelumnya merebut sejumlah wilayah di pesisir Laut Merah, termasuk kota pelabuhan Mokha dan Pulau Mayun atau Perim, yang berada di kawasan strategis Bab al-Mandeb.

Pada Senin, Houthi juga dilaporkan memperluas keberadaannya ke Pulau Greater Hanish dan Lesser Hanish di Laut Merah bagian selatan. Kedua pulau itu berada sekitar 160 kilometer di utara Bab al-Mandeb.

Kemajuan tersebut semakin memperkuat posisi Houthi di sekitar Bab al-Mandeb, jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur tersebut dalam kondisi normal dilalui sekitar 12 persen perdagangan dunia, termasuk sekitar 11 persen perdagangan minyak melalui laut dan 8 persen gas alam cair (LNG).

Konflik Yaman kembali meningkat sejak Juli 2026 setelah sekitar empat tahun relatif lebih tenang menyusul gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022.

Pertempuran kemudian meluas setelah Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan mulai menyerang kapal-kapal Saudi di Laut Merah. Serangan juga merambah wilayah selatan Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak.

Eskalasi terbaru turut memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut hampir 86.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran dalam beberapa pekan terakhir.

Sebagian warga bahkan meninggalkan Yaman. Lebih dari 2.000 orang dilaporkan telah mencapai Djibouti untuk mencari perlindungan. (*)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *