RILIS INDONESIA.Com, Jakarta – Pengamat politik sekaligus pebisnis Iyyas Subiakto kembali menarik perhatian publik melalui aktivitasnya di media sosial. Lewat berbagai kanal yang ia kelola, Iyyas kerap menyampaikan kritik dan pandangan tajam mengenai dinamika bangsa, termasuk isu reshuffle kabinet yang belakangan ramai diperbincangkan.
“Dalam salah satu unggahannya, Iyyas menyinggung pentingnya keteladanan seorang pemimpin dengan menggunakan peribahasa satir: “guru kencing berdiri, murid kencing di mana-mana.” Ungkapan tersebut dimaksudkan sebagai sindiran bahwa perilaku elite akan menjadi cerminan bagi rakyat Indonesia.
“Selain menyoroti isu reshuffle, Iyyas juga mengusung gagasan Bangsa Kreatif, yakni semangat agar masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam pembangunan dan perubahan. Melalui media sosial, ia mengajak publik untuk berani bersuara, berpikir kritis, sekaligus tetap produktif.
“Aktivitas Iyyas di dunia maya menunjukkan bagaimana media sosial kini menjadi ruang alternatif bagi pengamat maupun tokoh masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan gagasan. Kehadirannya dinilai mampu memberikan warna berbeda dalam diskursus politik nasional, meski kerap menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.
“Dalam konteks kepemimpinan, Iyyas menekankan bahwa seorang pemimpin tidak boleh sembarangan dalam memilih anggota kabinet. Setiap menteri harus memiliki kapasitas dan kompetensi, bukan sekadar ditunjuk tanpa pertimbangan matang.
“Sejak jauh-jauh hari saya sudah menyampaikan hal ini, bahkan sebelum peluncuran kabinet, karena pada dasarnya struktur kabinet ini belum cukup kuat,” ujar Iyyas.
Ia mencontohkan kinerja Menteri Pariwisata, dengan mempertanyakan apa yang telah dicapai kementerian tersebut selama enam bulan kepemimpinan Presiden Prabowo. Begitu pula dengan Menteri Keuangan, yang menurutnya perlu segera menunjukkan realisasi janji-janji dalam tiga bulan masa jabatannya.
“Iyyas juga menyoroti pernyataan Menteri Keuangan sebelumnya, Purbaya, yang pernah menyebut IHSG bisa menembus 36 ribu. Kini, IHSG berada di kisaran 79 ribu, angka yang menurutnya harus dipandang rasional. Ia menambahkan, untuk meningkatkan investasi sebesar 8% dibutuhkan sekitar Rp13.000 triliun, sementara dalam enam bulan kepemimpinan kabinet baru, investasi baru mencapai Rp400 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan ekonomi tidaklah mudah, terlebih di tengah kondisi global yang tidak stabil.
“Negara kita tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan dan kerja sama dengan negara-negara lain,” tegasnya.
Iyyas menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan dilandasi kebencian, melainkan sebagai masukan konstruktif demi kemajuan bangsa. Ia juga menekankan konsistensinya dalam mendukung kepemimpinan nasional:
“Saya adalah salah satu tokoh yang mendukung sepenuhnya kepemimpinan Pak Jokowi. Begitu pula saat Pak Prabowo Subianto mencalonkan diri, saya juga mendukung penuh untuk kemenangan beliau. Kritik yang saya sampaikan bukan berarti menolak kepemimpinan, melainkan mendorong agar kabinet bekerja maksimal dan memenuhi janji kepada rakyat.”
Terpisah, dalam percakapan via WhatsApp dengan Media Rilis Indonesia, Iyyas menyampaikan rencananya untuk meninjau langsung persoalan lingkungan di Kalimantan.
“Minggu depan, insyaallah saya akan ke Kalimantan, Bung Hendra. Saya akan coba review kerusakan lahan akibat pertambangan, terutama di Kalimantan Tengah. Kondisinya sangat parah, wilayah rusak dan sampah menumpuk, kasihan masyarakat di sana. Insyaallah minggu depan saya ke sana. Nanti kalau kebetulan saya masuk wilayah Lampung dan review di sana, kita ngobrol ya, Bung Hendra ,” ujar Iyyas.(Red)

