RILIS INDONESIA.Com – Teheran,- Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan dalam perundingan kedua negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, AS harus menghentikan tindakan yang disebut Iran sebagai ilegal dan destruktif serta memperbaiki dampak dari kebijakan tersebut.
“Amerika Serikat harus menghentikan dan memperbaiki tindakan ilegal serta destruktifnya,” kata Baghaei, Senin (10/8/2026), seperti dilansir Associated Press (AP).
Iran menuntut AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang selama berbulan-bulan, mencabut sanksi ekonomi, serta membuka kembali aset Iran yang dibekukan.
Penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu dampak paling signifikan dari perang. Jalur perairan strategis tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang diperdagangkan.
Kebuntuan mengenai pembukaan kembali selat itu juga membuat harga energi menjadi perhatian utama di AS menjelang pemilu sela pada November.
Di sisi lain, Iran tengah melakukan perundingan terpisah dengan Oman mengenai transit melalui Selat Hormuz. Salah satu opsi yang dibahas adalah pembentukan koridor pelayaran sementara.
Namun, Iran menegaskan pembukaan kembali selat secara penuh tetap bergantung pada hasil perundingan dengan AS.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan dan harga minyak dunia. (**)

