Teheran, RILIS INDONESIA.Com – Iran menegaskan belum akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum tuntutan Tehran dipenuhi dan komitmen Amerika Serikat dilaksanakan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, Tehran tidak melihat perang dan diplomasi sebagai dua pilihan yang saling bertentangan. Menurutnya, Iran akan tetap menggunakan kekuatan militer sekaligus menjalankan diplomasi untuk mencapai tujuannya.
“Dikotomi antara perang dan negosiasi tidaklah nyata. Kita harus berperang sekaligus bernegosiasi,” kata Ghalibaf dalam pidatonya pada Minggu (20/9/2026), seperti dilaporkan Al Jazeera.
Ghalibaf mengatakan, Iran akan menggunakan kekuatan militernya untuk menghadapi lawan dan kemudian memanfaatkan hasil yang diperoleh di medan perang melalui jalur diplomasi.
Ketika diperlukan, dengan seluruh kekuatan militer yang kita miliki, kita akan mengusir musuh dan memberikan pukulan yang menentukan. Namun ketika kita telah mencapai kemenangan yang signifikan di medan perang, kita mengonsolidasikan keuntungan tersebut melalui instrumen diplomasi,” ujarnya.
Ia menegaskan posisi diplomatik Iran saat ini sudah jelas dan tidak dapat dinegosiasikan.
Ghalibaf juga mengaitkan langsung tuntutan tersebut dengan pembukaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik penting dalam konflik Iran-Amerika Serikat.
“Selama persyaratan ini tidak dipenuhi, hak-hak sah bangsa Iran tidak diakui dan komitmen Amerika tidak dilaksanakan, tidak ada ruang untuk kembali ke kondisi negosiasi sebelumnya dan membuka Selat Hormuz,” kata Ghalibaf.
Pernyataan Ghalibaf tersebut muncul sehari setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengungkap bahwa Tehran telah menyampaikan persyaratan untuk mengakhiri perang kepada Washington melalui mediator Qatar.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada Sabtu (19/9/2026), Rezaei mengatakan Iran masih menunggu jawaban Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Kami tetap berhubungan dengan mediator Qatar, yang telah menyampaikan persyaratan kami kepada Washington dengan tujuan mengakhiri perang. Kami menunggu respons Presiden Trump,” kata Rezaei.
Menurut Rezaei, persyaratan Iran mencakup penghentian perang di seluruh front, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade laut Amerika Serikat.
Rezaei juga memperingatkan bahwa Iran tetap mempersiapkan kemungkinan perang kembali meningkat. Ia mengatakan ancaman Trump tidak akan mengubah posisi Tehran dan Iran siap menghadapi apa yang disebutnya sebagai perang yang menentukan.
Qatar dan Pakistan sebelumnya telah berupaya menghidupkan kembali perundingan antara Iran dan Amerika Serikat setelah memorandum of understanding (MoU) kedua negara berakhir pada Agustus.
Dalam perkembangan terkait, Rezaei mengatakan strategi militer Iran kini lebih berfokus pada aset-aset angkatan laut Amerika Serikat yang berada dari kawasan Teluk hingga Teluk Oman dan Laut Arab. Ia juga tidak menutup kemungkinan terjadinya serangan baru AS terhadap Iran.
Sementara itu, terkait Selat Hormuz, Rezaei mengatakan Iran dan Oman sebelumnya hampir mencapai kesepakatan, tetapi pengumumannya ditunda. Menurutnya, kerangka kesepakatan tersebut masih tersedia dan kemungkinan memerlukan dukungan regional sebelum diumumkan. (*)
