Eskalasi Baru di Teluk: AS dan Iran Saling Serang Setelah Jeda Sebulan

Redaksi MRI
Oleh
3 Menit Baca

RILIS INDONESIA.Com – Teheran, – Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Selat Hormuz, Minggu (30/8/2026). Serangan itu menjadi aksi militer pertama Washington terhadap Iran dalam sebulan terakhir.

Iran langsung membalas. Televisi pemerintah Iran menayangkan peluncuran rudal balistik yang disebut diarahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania.

Dilansir Associated Press (AP), militer Yordania menyatakan delapan rudal yang memasuki wilayah udaranya berhasil dicegat pada Senin (31/8/2026) dini hari.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan dilakukan setelah pasukan Garda Revolusi Iran terpantau mempersiapkan peluncur roket yang membawa ranjau laut menuju Selat Hormuz.

- Advertisement -

Juru bicara CENTCOM Tim Hawkins mengatakan militer AS sebelumnya telah menyelesaikan operasi pembersihan ranjau dari jalur pelayaran internasional di selat tersebut.

Media semi-resmi Iran melaporkan ledakan terdengar di sekitar Pulau Larak. Garda Revolusi kemudian mengakui sejumlah anggotanya dan warga menjadi korban.

Juru bicara Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Mohebi menyebut serangan AS sebagai “kesalahan fatal” dan memperingatkan Washington akan menghadapi konsekuensi militer maupun ekonomi.

Serangan terbaru itu mengakhiri jeda yang berlangsung sejak akhir Juli. Terakhir kali AS mengonfirmasi serangan terhadap Iran adalah 29 Juli, ketika Washington melancarkan serangan besar terhadap puluhan sasaran Garda Revolusi.

Pada 1 Agustus, Presiden AS Donald Trump mengatakan telah memerintahkan penghentian sementara serangan baru setelah mendapat dorongan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Eskalasi terbaru juga terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintahan Trump menyatakan akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi dan sanksi untuk memaksa Iran mengakhiri perang.

Konflik AS-Iran telah berlangsung sejak 28 Februari. Iran dalam beberapa bulan terakhir menyerang pangkalan militer dan infrastruktur AS di sejumlah negara Teluk.

Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik tersebut. Jalur ini dalam kondisi normal dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Iran masih memiliki kemampuan drone dan rudal untuk menyerang kapal-kapal yang melintas, sementara lalu lintas kapal komersial di kawasan itu turun drastis sejak perang berlangsung.

Trump sebelumnya menyatakan Selat Hormuz telah terbuka dan menyebut 24 kapal melintas dalam sepekan terakhir. Namun angka itu jauh di bawah kondisi sebelum perang, ketika sekitar 130 kapal melintas setiap hari.

Koalisi multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS juga menyebut aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz masih berada pada tingkat rendah.

Harga minyak langsung naik setelah serangan terbaru. Minyak AS menguat 1,8 persen menjadi US$84,94 per barel, sedangkan Brent naik 1,9 persen menjadi US$89,79 per barel.

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker dihantam proyektil tak dikenal di sebelah utara Khasab, Oman, Sabtu. Tidak ada korban maupun dampak lingkungan yang dilaporkan.

Militer AS mengatakan hingga Minggu telah mengalihkan 83 kapal komersial dan melumpuhkan tiga kapal dalam operasi blokade terhadap pelabuhan Iran.

(Berbagaisumber/ai/MRI)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *