RILIS INDONESIA.Com – TOKYO – Seorang pria Jepang baru mengetahui identitas keluarganya setelah hampir 60 tahun menjalani hidup sederhana.
Ia ternyata merupakan anak biologis sebuah keluarga kaya. Namun, sejak lahir pada Maret 1953, hidupnya tertukar dengan bayi laki-laki lain.
Keduanya lahir di Rumah Sakit San-Ikukai, Tokyo. Kesalahan petugas rumah sakit membuat bayi tersebut diberikan kepada keluarga yang bukan orang tua biologisnya.
Pria itu kemudian dibesarkan seorang ibu tunggal. Kehidupannya berlangsung dalam kondisi sulit.
Ia tumbuh dengan bantuan sosial. Setelah dewasa, ia bekerja sebagai sopir truk untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Di sisi lain, bayi yang tertukar dengannya tumbuh dalam keluarga kaya.
Ia mendapat pendidikan hingga perguruan tinggi. Kehidupannya juga berlangsung jauh lebih berkecukupan.
Kecurigaan mulai muncul sekitar 2009.
Tiga adik dari pria yang dibesarkan keluarga kaya merasa ada kejanggalan. Kakak sulung mereka tidak memiliki kemiripan dengan anggota keluarga lainnya.
Mereka juga teringat cerita sang ibu.
Sang ibu pernah merasa janggal setelah bayinya dimandikan perawat rumah sakit. Pakaian yang dikenakan bayinya disebut telah berubah.
Kecurigaan itu kemudian berujung pada tes DNA.
Hasil pemeriksaan membuktikan pria tersebut bukan anak biologis keluarga kaya itu.
Penelusuran catatan kelahiran kemudian mengarah kepada pria lain. Ia lahir di rumah sakit yang sama pada 1953.
Pria itulah bayi yang tertukar.
Selama puluhan tahun, ia ternyata menjalani kehidupan dalam keluarga sederhana.
Kebenaran tersebut membawa kebahagiaan sekaligus kepedihan.
Pria itu akhirnya mengetahui keluarga biologisnya. Namun, kedua orang tua kandungnya telah meninggal.
Mereka tidak sempat bertemu dengan anak yang selama ini terpisah dari mereka.
Ia kemudian menggugat Rumah Sakit San-Ikukai. Tuntutannya mencapai sekitar USD2,5 juta atau sekitar Rp27 miliar.
Pengadilan akhirnya memberikan ganti rugi sekitar USD370 ribu atau sekitar Rp3,6 miliar.
Meski demikian, pria tersebut tidak menyalahkan orang yang selama ini menjalani kehidupannya.
Keduanya sama-sama menjadi korban kesalahan yang terjadi puluhan tahun sebelumnya.
Di usia senja, ia akhirnya bertemu dengan adik-adik kandungnya. Hubungan mereka pun semakin dekat.
Kompensasi dapat mengganti kerugian secara materi.
Namun, uang tidak mampu mengembalikan enam dekade kehidupan yang telah tertukar.
(Berbagaisumber/*/MRI)
